Review Platinum End: Apakah Sehebat Death Note?

UlasanAnime.com — Saat pertama kali mendengar duet maut Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata kembali bersatu, ekspektasi warganet langsung melambung tinggi. Wajar saja, mereka adalah sosok di balik mahakarya Death Note dan Bakuman. Namun, ketika Review Platinum End mulai bermunculan, ada sebuah polaritas yang cukup tajam di kalangan penggemar.

crunchyroll.com/platinum-end
crunchyroll.com/platinum-end
crunchyroll.com/platinum-end

Jujur sih, menonton anime ini rasanya seperti naik roller coaster emosi yang campur aduk. Di satu sisi kita disuguhi visual yang memanjakan mata, tapi di sisi lain, kita dipaksa menelan narasi yang terkadang terasa sangat berat dan “berisik” oleh monolog filosofis.

Plot: Pertarungan Bertahan Hidup Menuju Takhta Dewa

Cerita bermula dari Mirai Kakehashi, seorang remaja yang kehilangan semangat hidup karena pelecehan dari keluarganya sendiri. Di saat ia mencoba mengakhiri hidupnya, ia diselamatkan oleh Nasse, seorang malaikat yang memberinya kekuatan supernatural: sayap dan panah.

Gak cuma Mirai, ternyata ada 12 kandidat lain di seluruh dunia yang juga mendapatkan kekuatan serupa. Misinya cuma satu: bertarung satu sama lain selama 999 hari untuk menjadi Tuhan yang baru. Bayangin deh, premis battle royale yang biasanya penuh aksi brutal, di sini justru dibalut dengan pertanyaan eksistensial tentang apa itu kebahagiaan.

Berdasarkan data dari MyAnimeList, anime yang digarap oleh studio Signal.MD ini memiliki 24 episode yang mencakup seluruh cerita manganya. Ini adalah poin plus karena kita mendapatkan ending yang tuntas, meski eksekusinya memicu banyak perdebatan.

Karakter Mirai Kakehashi: Protagonis yang “Terlalu Baik”?

Nah, bagian ini yang sering bikin penonton gemas. Berbeda dengan Light Yagami yang ambisius dan jenius, Mirai adalah sosok yang sangat pasif dan hanya ingin hidup bahagia dengan cara sederhana. Dia menolak membunuh, bahkan ketika nyawanya terancam.

Jujur sih, bagi sebagian orang, karakter Mirai ini terasa membosankan karena tidak memberikan “dorongan” kuat pada plot. Tapi kalau kita bedah lebih dalam, Mirai adalah antitesis dari karakter battle royale pada umumnya. Dia merepresentasikan kemanusiaan di tengah sistem yang memaksa orang menjadi monster.

Gak cuma itu, karakter antagonisnya, Kanade Uryu (Metropoliman), adalah sosok yang jauh lebih menarik secara visual dan motivasi. Dia adalah sosok yang narsis dan kejam, yang membuat kontras antara “kebahagiaan egois” dan “kebahagiaan bersama” menjadi tema sentral yang kental.

Analisis Spesialis: Visual Megah vs Pacing yang Lambat

Takeshi Obata tidak pernah gagal dalam urusan desain karakter. Sayap malaikat dan baju tempur para kandidat Tuhan di Platinum End terlihat sangat ikonik dan mewah. Kutipan resmi dari staf produksi di Signal.MD menyebutkan bahwa mereka berusaha keras menjaga detail desain Obata agar tetap terasa megah di layar kaca.

Namun, masalah utama yang saya temukan dalam analisis mendalam ini adalah pacing-nya. Kadang, anime ini terjebak dalam dialog panjang yang muter-muter soal moralitas. Bayangin deh, di tengah situasi hidup dan mati, karakternya malah sempat-sempatnya diskusi filosofi selama sepuluh menit. Buat penonton yang nyari aksi murni, ini bisa jadi poin yang bikin ngantuk.

Perbandingan: Platinum End vs Death Note & Future Diary

Sulit untuk tidak membandingkan anime ini dengan Death Note. Jika Death Note adalah soal “Keadilan”, maka Platinum End adalah soal “Kebahagiaan”. Sayangnya, tensi kucing-kucingan yang bikin tegang di Death Note tidak ditemukan di sini. Intensitasnya sering kali kendor karena keragu-raguan sang protagonis.

Jika dibandingkan dengan Mirai Nikki (Future Diary) yang punya premis serupa (menjadi Tuhan), Platinum End terasa jauh lebih dewasa dan serius. Mirai Nikki lebih ke arah gore dan kegilaan karakter, sementara Platinum End lebih ke arah perdebatan teologi. Sayangnya, kegilaan di Mirai Nikki terkadang justru lebih menghibur daripada keseriusan Platinum End yang kaku.

Kelebihan dan Kekurangan: Objektivitas di Balik Sayap Malaikat

Kelebihan:

  • Visual yang Estetik: Desain karakter dan malaikatnya benar-benar kelas atas.

  • Tema Filosofis yang Berani: Berani mempertanyakan konsep Tuhan, bunuh diri, dan makna hidup.

  • Cerita yang Tuntas: Tidak ada gantung, karena diadaptasi sampai bab terakhir manganya.

Kekurangan:

  • Protagonis Kurang Karisma: Mirai sering kali terasa terlalu lembek untuk memimpin cerita besar.

  • Dialog yang Terlalu Ekspositori: Informasi disampaikan lewat omongan panjang, bukan lewat aksi (Show, don’t tell yang gagal).

  • Ending yang Kontroversial: Banyak yang merasa ending-nya terlalu absurd atau tidak memuaskan.

Insight Unik: Mengapa Kita Takut Bahagia?

Ada satu insight menarik yang saya tangkap dari anime ini. Platinum End menunjukkan bahwa setiap manusia punya definisi bahagia yang berbeda, dan sering kali kebahagiaan seseorang dibangun di atas penderitaan orang lain.

Anime ini seolah ingin menampar kita bahwa kekuasaan absolut (seperti menjadi Tuhan) pun tidak bisa menjamin kebahagiaan jika pelakunya tidak damai dengan dirinya sendiri. Sebuah pesan yang sangat relate banget dengan kondisi kesehatan mental di era modern saat ini.

Kesimpulan

Platinum End adalah sebuah karya yang ambisius namun tidak sempurna. Ia memiliki visual yang luar biasa cantik tapi terbebani oleh naskah yang terlalu filosofis hingga melupakan aspek hiburan yang dinamis. Jika kamu menyukai karya Ohba-Obata, anime ini tetap layak ditonton, tapi buang jauh-jauh bayang-bayang Light Yagami agar kamu tidak kecewa.

Anime ini lebih cocok dinikmati sebagai renungan tentang hidup daripada sebuah tayangan aksi survival. Tidak semua orang akan menyukainya, tapi bagi mereka yang “nyambung” dengan pesannya, anime ini akan memberikan bekas yang mendalam.


Referensi dan Sumber:

—✍️ Ditulis oleh Ulasan Otaku, Ulasan Otaku adalah penulis yang fokus membahas review, teori, dan fakta menarik seputar dunia anime

Baca Juga:

Site Icon
Muhammad Suyou

Muhammad Suyou adalah penulis dan pengulas anime yang telah mengikuti perkembangan industri anime selama lebih dari 8 tahun. Telah menonton ratusan judul dari berbagai genre, dengan fokus pada analisis cerita, karakter, dan pesan yang disampaikan dalam setiap anime. Melalui UlasanAnime.com, ia membagikan review, analisis mendalam, serta rekomendasi anime berdasarkan pengalaman menonton secara langsung, dengan tujuan membantu pembaca menemukan tontonan terbaik sesuai preferensi mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top