Review Tokyo 24-ku: Dilema Pahlawan vs Sistem AI Masa Depan!

UlasanAnime.com — Pernah ngebayangin nggak, lagi asik nongkrong tiba-tiba dapet telepon dari temen yang udah setahun meninggal? Horor? Jelas. Tapi di Tokyo 24-ku (Tokyo 24th Ward), telepon misterius ini malah jadi awal dari petualangan super canggih yang penuh dilema moral. Anime original dari CloverWorks ini dateng dengan ambisi gede: gabungin isu sosial, teknologi AI, dan aksi pahlawan dalam satu paket.

crunchyroll.com/tokyo-24th-ward
crunchyroll.com/tokyo-24th-ward
crunchyroll.com/tokyo-24th-ward

Sayangnya, meski punya modal visual yang kinclong, perjalanan mimin nonton anime ini kerasa kayak naik roller coaster yang jalurnya terlalu banyak tikungan tajam. Menarik di awal, tapi bikin mual di tengah karena saking banyaknya info yang dijejelin.

Plot: Dilema “Trolley Problem” di Dunia Dystopian

Cerita berpusat di sebuah distrik buatan manusia di Teluk Tokyo yang dikenal sebagai Distrik 24. Di sini ada tiga sahabat masa kecil yang dikenal sebagai “RGB” karena warna rambut mereka: Shuuta (Merah), Ran (Hijau), dan Kouki (Biru). Hidup mereka berubah total pas mereka dapet telepon serentak dari Asumi, temen mereka yang udah meninggal dalam insiden kebakaran tragis.

Suara Asumi di telepon itu nggak cuma nyapa, tapi ngasih penglihatan masa depan tentang bencana yang bakal terjadi. Si trio RGB ini dipaksa buat milih satu dari dua jalur yang sama-sama pahit. Mirip banget sama “Trolley Problem” (masalah kereta kencana) di pelajaran filsafat. Bedanya, mereka bertiga selalu berusaha nyari “jalur keajaiban” alias jalur ketiga buat nyelamatin semua orang.

Terlalu Banyak Subplot, Terlalu Sedikit Durasi

Nah, di sinilah masalah utamanya. Tokyo 24-ku punya banyak banget isu yang pengen dibahas. Mulai dari aplikasi yang ternyata narkoba, perang grafiti antar geng, penggusuran kawasan kumuh, sampai sistem AI “Kanae” yang ngawasin privasi warga demi keamanan total.

Jujur sih, ide-idenya itu relate banget sama isu dunia nyata soal privacy vs security. Tapi karena cuma punya 12 episode, semua subplot itu kerasa numpuk dan berantakan. Ibarat kamu makan nasi padang tapi semua lauknya dicampur jadi bubur, rasanya jadi membingungkan. Kalau aja durasinya 24 episode, mungkin pembangunan dunianya bakal jauh lebih matang.

Karakter: Trio RGB yang Jarang Akur

Fokus utama ceritanya ada di trio RGB, tapi pembagian porsi layar (screen time) mereka kerasa nggak adil banget.

  • Shuuta Aoi (Red): Dia dapet porsi paling banyak, sekitar 65%. Tipikal protagonis yang pengen jadi pahlawan buat semua orang. Sayangnya, dibanding dua temennya, Shuuta ini yang paling lambat konek sama teknologi dan misteri yang ada. Kadang bikin gemes sendiri liat dia kebingungan di tengah plot sci-fi yang berat.

  • Ran Akagi (Green): Si hacker jenius sekaligus seniman grafiti. Dia tipe yang santai dan rebel banget sama pemerintah. Sayangnya, latar belakangnya kurang digali lebih dalem, padahal potensi karakternya gede banget buat nentang sistem AI.

  • Kouki Suidou (Blue): Anak walikota yang sangat logis dan taat aturan. Dia yang paling ngedukung sistem AI demi ketertiban. Anehnya, sebagai salah satu pilar utama, porsi layarnya malah paling dikit, bahkan kalah sama beberapa karakter sampingan yang nggak terlalu penting.

Interaksi mereka bertiga juga kurang greget. Bukannya kerja tim yang solid, mereka malah lebih sering berantem atau jalan sendiri-sendiri. Ditambah lagi, terlalu banyak adegan kilas balik (flashback) yang tujuannya buat ngejelasin trauma masa lalu, tapi malah sering motong momentum cerita yang lagi seru-serunya.

Visual dan Animasi: Estetika CloverWorks yang Memukau

Meskipun ceritanya agak berantakan, mimin harus angkat jempol buat urusan art dan animasi. CloverWorks emang nggak pernah gagal kalau soal bikin visual yang cantik dan vibran.

  • Desain Karakter: Desainnya unik dan stand out banget. Penggunaan warna RGB pada rambut dan pakaian mereka bener-bener mencerminkan kepribadian masing-masing. Visual pas mereka dapet penglihatan masa depan—mulai dari transisi masuk ke lubang telinga sampe munculnya sosok Asumi yang transparan—itu keren parah dan ikonik banget.

  • Latar Tempat: Penggambaran Distrik 24 bener-bener detail. Mulai dari toko roti keluarga Shuuta yang hangat sampe kawasan kumuh Shantytown yang penuh coretan grafiti estetik. Dunianya kerasa hidup dan berwarna.

  • Animasi Aksi: Gerakan parkour Shuuta dan adegan kejar-kejaran di sini cukup mulus. Satu-satunya yang mengganggu mata cuma penggunaan CG buat kendaraan kayak kereta dan mobil yang kelihatan kaku banget dan nggak nyatu sama lingkungannya.

Sound: Musik yang Pas dengan Vibe Kota Masa Depan

Sektor audio di anime ini cukup solid. Lagu pembukanya, “Paper Sky” dari Survive Said The Prophet, bener-bener bertenaga dan enak buat masuk playlist. Lagu penutupnya yang judulnya “255,255,255” (kode warna buat putih di sistem RGB) juga sangat santai dan pas buat nutup episode yang penuh ketegangan.

BGM-nya sendiri cukup bagus buat dukung suasana, meski nggak ada yang bener-bener nempel di telinga kecuali suara lonceng “Suzu” yang muncul tiap kali ada ramalan masa depan. Untuk urusan voice acting, para seiyuu senior di sini berhasil ngebawain karakter mereka dengan sangat pas, bikin emosi di tiap pilihan sulit itu tetep nyampe ke penonton.


Kesimpulan

Tokyo 24-ku adalah anime yang punya potensi jadi masterpiece sci-fi, tapi sayangnya tersandung oleh ambisinya sendiri. Plot yang terlalu padat dan perkembangan karakter yang nggak seimbang bikin pengalaman nontonnya jadi kurang memuaskan. Padahal, isu moral yang diangkat bener-bener berbobot.

Kalau kamu tipe penonton yang lebih mentingin visual cantik dan nggak terlalu ambil pusing sama plot yang sedikit berantakan, anime ini tetep wajib masuk watchlist. Tapi kalau kamu nyari cerita sci-fi yang rapi kayak Vivy: Fluorite Eye’s Song, mungkin kamu bakal sedikit kecewa.

Final Score: 6/10

Gimana menurut kamu, Nakama? Kalau kamu dapet penglihatan masa depan tentang kecelakaan kereta, kamu bakal nyelamatin satu orang tersayang atau milih ngerem keretanya tapi berisiko ngebunuh semua penumpang di dalemnya? Pilihan yang nggak mungkin bener, kan? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya!

Jangan lupa pantau terus UlasanAnime.com buat dapetin ulasan jujur dan info update seputar anime musim ini. Sampai jumpa di ulasan berikutnya!

—✍️ Ditulis oleh Ulasan Otaku
Ulasan Otaku adalah penulis yang fokus membahas review, teori, dan fakta menarik seputar dunia anime

Baca Juga:

Site Icon
Muhammad Suyou

Muhammad Suyou adalah penulis dan pengulas anime yang telah mengikuti perkembangan industri anime selama lebih dari 8 tahun. Telah menonton ratusan judul dari berbagai genre, dengan fokus pada analisis cerita, karakter, dan pesan yang disampaikan dalam setiap anime. Melalui UlasanAnime.com, ia membagikan review, analisis mendalam, serta rekomendasi anime berdasarkan pengalaman menonton secara langsung, dengan tujuan membantu pembaca menemukan tontonan terbaik sesuai preferensi mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top